Video-ku

Materi SD>>>Materi SMP>>>Materi SMA

27 Juli 2011

Dulu Penganut Muslim Taat, Kini Bhikhu Senior Teladan

SURABAYA, INDONESIA, Berita Agama Buddha - Kehidupan dunia seperti perputaran roda pedati. Dulu beliau bernama Djamal Bakir penganut Muslim taat yang memiliki istri tercinta, kini berganti nama menjadi bhikhu Khanthidharo Mahathera yang hidup selibat tanpa didampingi keluarga tersayang dengan menjalankan masa vassa kebhikhuan 24 tahun mengikuti jejak kehidupan sang Buddha.

Berulang tahun di saat perayaan hari suci Asadha merupakan kebahagiaan tersendiri bagi bhikhu Khantidharo Mahathera. Asadha merupakan awal berputarnya roda dhamma yang dibabarkan sang Buddha kepada lima pertapa (pancavagiya-bhikkhu). “Ulang tahun tanpa disadari malah mengurangi umur satu tahun bukan memperpanjang umur. Usia terlalu panjang tapi kalau sakit-sakitan malah akan menyusahkan keluarga, teman. Sebenarnya tidak perlu berusia terlalu panjang tapi yang penting dalam kondisi sehat merupakan berkah yang perlu disyukuri” ceramah bhikhu Khantidharo Mahathera, kepala vihara Dhammadipa Arama Batu Malang.

Perjuangan dan pengorbanan, kebahagiaan maupun penderitaan mewarnai kehidupan beliau yang datang silih berganti seperti perputaran roda pedati. Djamal Bakir lahir pada 17/7/1931 dari pasangan alm Bakir Setjodihardjo dan almh Sumini di desa Pakis lereng gunung Merbabu Magelang. Putra kelima dari 9 bersaudara dikenal mudah bersosialisasi dan pintar. Pada 1947 ayahanda meninggal dunia, untuk menyambung hidup ia mengambil ikatan dinas departemen P&K mengajar di sekolah swasta sampai lulus SMA Negeri Magelang. Pada 1952 keenjadi guru SMEP Medan, lalu 1954 kembali ke Jateng melanjutkan B1 setara D3 di solo sambil mengajar di sekolah SMP-SMA. Bertemulah dengan Sri Hartini sesama profesi guru TK dan pada 17 juli 1955 mempersuntingnya sebagai istri tercinta. Lanjut 1956 menjadi wakil kepala sekolah SMEA Negeri Gorontalo lalu terjadi PRRI/PERMESTA mengakibatkan 14 guru terbunuh lalu jadi kepala sekolah hingga 1961. Kemudian ke malang melanjutkan studi di FKIP (sekarang UNM) jurusan ekonomi lulus 1963 dengan gelar Drs Djamal Bakir sore bekerja sebagai guru SMEA Negeri Malang, paginya sebagai direktur bank umum Batu berkenalan dengan romo pandita Mujono. Setelah mengenal ajaran Buddha Djamal menemui pandita Pannasiri (Alm Go Eng Djan), lalu mengajak Hartini untuk ikut membaca buku Budha yang direspon positif oleh sang istri. Sejoli ini aktif kebaktian di vihara Dhammadipa Arama bertemu beberapa umat Buddha yang santun dan intelektual diantaranya Dr Gunawan (kini di Papua), Dr Widjayanti (kini di Madiun). Pada 1971 naik pangkat menjadi wakil kepala sekolah SMEA Negeri Malang dan menjadi ketua Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) Malang berjuang bersama Herman S Endro (kini bhikhu Jayamedho).



Mulailah perjalanan memperdalam Buddha Dharma. Menjadi bala anupandita dengan nama Dharmaniyana Djamal Bakir dan istrinya menjadi Dharmaniyani Sri Hartini. Lalu aktif menerbitkan buletin kursus tertulis pendidikan guru agama Buddha dan majalah bulanan Pancaran Dharma 1970 hingga 1977. Djamal Bakir menjadi kepala sekolah Duta Taruna bagi WNI di Yangon Myanmar dan naik pangkat menjadi staf KBRI Myanmar. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pada 1981 diupasampada sebagai Upajjhaya oleh Sayadaw Ashin Janakabhivamsa di Chanmiyay Yeiktha Meditation Center Yangon. Saat hari libur aktif berdana makanan pada YM Mahasi Sayadaw (Alm) sambil berlatih vipassana. Kemudian pada 1982 mengajak keluarga berziarah ke tanah suci India dan pulang ke tanah air. Ibu Sumini meninggal dunia. Pak Djamal bertugas menjadi Inspektorat Jendral departemen P & K selama 5 tahun berkeliling ke 27 propinsi di Indonesia. Agustus 1987 pensiun dari kedinasan pegawai negeri sipil P & K.

Sesuai dengan sumber dari http://news.manycome.com/3000.html
Readmore - Dulu Penganut Muslim Taat, Kini Bhikhu Senior Teladan

26 Juli 2011

Materi SMP

AGAMA BUDDHA
Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal.
Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).

KONSEP KETUHANAN DALAM BUDDHISME
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

 

VINAYA PIAKA

Vinaya Pitaka adalah bagian pertama dari tiga bagian Tripitaka, kitab suci agama Buddha. Bagian ini berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni yang terdiri atas 3 bagian:
  • Sutta Vibhanga
  • Khandhaka

Sutta Vibhanga

Kitab Sutta Vibhanga berisi peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni, terdiri dari:
  • Bhikkhu Vibhanga - berisi 227 peraturan yang mencakup 8 jenis pelanggaran, di antaranya terdapat 4 pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang Bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi Bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran itu, adalah berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. Untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan.
  • Bhikkhuni Vibhanga - berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.

Khandhaka

Kitab Khandhaka terbagi atas:
  • Kitab Mahavagga - berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara pentahbisan Bhikkhu; upacara uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Patimokha (peraturan disiplin bagi para Bhikkhu); peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa); upacara pada akhir vassa (pavarana); peraturan-peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan; pemberian jubah Kathina setiap tahun; peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu yang sakit; peraturan tentang tidur; peraturan tentang bahan jubah; tata cara melaksanakan Sanghakamma (upacara Sangha); dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.
  • Kitab Culavagga - berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran; tata cara penerimaan kembali seorang Bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya; tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul; berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, pengenaan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya; mengenai perpecahan kelompok-kelompok Bhikkhu; kewajiban-kewajiban guru (acariya) dan calon Bhikkhu (samanera); pengucilan dari upacara pembacaan Patimokkha; pentahbisan dan bimbingan bagi Bhikkhuni; kisah mengenai Pasamuan Agung Pertama di Rajagaha; dan kisah mengenai Pasamuan Agung Kedua di Vesali.

Parivara

Kitab Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.
SUTTA PUTAKA



Abhidhamma Piaka

Menurut catatan sejarah, Abhidhamma Pitaka adalah suatu kitab yang baru resmi tertuliskan pada Muktamar (sanghayana) keempat yang diselenggarakan di Aluvihara, Sri Lanka pada tahun 83 Sebelum Masehi. Pada mulanya, kitab ini dituliskan pada lembaran-lembaran daun lontar. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Pali (Magadha). Namun beberapa tahun kemudian telah terdapat pula Abhidhamma Piaka yang ditulis dalam bahasa Sinhala, Devanagari, Myanmar, Thai, Inggris dan lain-lain.

Pengertian Abhidhamma

Abhidhamma berasal dari istilah Pali yang secara etimologinya terdiri dari dua kata yaitu Abhi yang berarti tinggi, agung, luhur, luas, dan Dhamma yang berarti kebenaran atau ajaran kebenaran dari Sang Buddha. Jadi Abhidhamma berarti ajaran yang luhur, agung, atau tinggi dari Sang Buddha. Dalam kitab ulasan Atthasalini, Buddhaghosa Thera menjelaskan bahwa kata sifat Abhi secara harafiah berarti melebihi, melampaui, dan mengungguli. Dhamma dalam Sutta Piaka adalah ajaran biasa (Vohara desana) dan banyak menggunakan istilah-istilah konvensional, seperti manusia, binatang, benda-benda dan sebagainya. Sedangkan Abhidhamma adalah ajaran tertinggi (paramatha desana), maka segala sesuatunya dianalisis secara teliti dan digunakan istilah-istilah yang analitis seperti kelompok kehidupan (khandha), unsur (dhatu), landasan (ayatana) bahkan jalan pembebasan diterangkan dengan kata yang terang, jelas, dan tepat.
Sebagai ajaran tertinggi Abhidhamma memungkinkan seseorang untuk mencapai pembebasan mutlak dari semua bentuk penderitaan, karena Abhidhamma berguna untuk mengembangkan pandangan terang (Vipassana bhavana). Tetapi tidak pula dikatakan bahwa Abhidhamma mutlak atau sangat perlu untuk mencapai kebebasan, pengertian dan pencapaian kebebasan semata-mata tergantung pada diri sendiri. Dikatakan bahwa Empat Kesunyataan Mulia yang merupakan landasan ajaran Sang Buddha terdapat dalam diri masing-masing manusia. Dhamma tidak terlepas dari diri manusia sendiri; manusia perlu mencari ke dalam diri mereka sendiri dan kebenaran akan tampak.
Dari Sutta dijelaskan bahwa terdapat orang-orang yang mencapai pencerahan tanpa mengenal Abhidhamma terlebih dahulu, seperti:
  • lima orang Bhikkhu yang kemudian dikenal sebagai Pancavagiya (Kondaña, Vappa, Bhaddiya Mahanama dan Assaji) mampu mencapai kesucian setelah mendengar khotbah Sang Buddha, yaitu pemutaran Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta).
  • Upatisa yang kemudian dikenal sebagai Y.A. Sariputta mencapai Sotappana hanya mendengar setengah bait "Hubungan Kausal" yang diajarkan oleh Y.A. Assaji, padahal waktu itu Ia belum belajar Abhidhamma.
  • Patacara, seorang ibu yang sedang bersedih karena kehilangan orang yang paling dekat dan paling disayang olehnya mampu mencapai pembebasan melalui perenungan pada air yang membasahi kakinya atas nasihat Sang Buddha.
  • Culapantaka, seorang yang tidak mampu menghapal sebait syair dalam waktu kurang lebih satu vassa, mencapai kearahatan dengan mengamati proses "Ketidak kekalan" yaitu dengan cara memandang sehelai sapu tangan yang bersih di bawah terik matahari.

Pembabaran Abhidhamma

Dikatakan bahwa Abhidhamma sesungguhnya kekal abadi; ia berada dalam alam semesta yang sangat luas ini, hanya suatu ketika Abhidhamma itu dilupakan oleh para Brahma, dewa dan manusia, pada saat itulah muncul Sammasambuddha yang akan mengajarkan Abhidhamma kepada mahluk-mahluk. Mahluk-mahluk seperti Savaka Buddha, Arahat, dan ariya Puggala tidak mampu mengajarkan Abhidhamma bila tidak belajar atau mendengar ajaran Abhidhamma.
Para Attakathacariya pernah menjelaskan dalam Paticcasamuppadavibhagathakatha sebagai berikut:
AYAM ABHIDHAMO NAMA NA ADHUNO KATONAPI BAHIRAKA ISIHIVA DEWATAHI VA BHASITO SABBANNUJINABHASITO PANA AYAM.
Artinya: Abhidhamma bukan hanya muncul dalam zaman sekarang ini saja, para resi (pertapa atau orang suci) atau dewa tidak mampu mengajarkan Abhidhamma (jika tidak belajar). Hanya Sammasambhuda saja yang dapat mengajarkannya.
Dalam kitab Ulasan atas Dhammapada, Khudaka Nikaya, kitab Ulasan Udana, dan Ulasan Itivuttaka dapat dijumpai data historis kisah berkenaan dengan Abhidhamma sebagai berikut:
  • pada minggu keempat setelah pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakannya dan bermeditasi mengenai Abhidhamma.
  • Tahun ketujuh setelah pencapaian penerangan sempurna selama satu vassa Sang Buddha mengunjungi surga Tavatimsa dan memberikan pelajaran Abhidhamma kepada dewi Maya dan pada dewa secara terperinci (Vittharanaya).
  • Pada kesempatan yang sama (Vassa) Ia mengajarkan kepada Y.A. Sariputta di hutan kayu cendana secara singkat (Sankhepanaya).
  • Y.A. Sariputta mengajarkan Abhidhamma kepada siswanya secara setengah ringkas dan setengah rinci (athivitharananatisankhepanaya) atas wewenang dari Sang Buddha untuk mengajarkan Abhidhamma kepada siswa-siswanya. Akhirnya Abhidhamma menjadi topik yang menarik di antara siswa Sang Buddha, termasuk Ananda Thera.
  • Pada Sangha Samaya Ketiga di Pataliputta diulanglah Abhidhamma Pitaka oleh Y.A. Kassapa Thera. Dan selanjutnya pada Sangha samaya keempat di Aluvihara secara resmi ditulis dalam sebuah kitab Tipitaka.

Tujuh Kitab Abhidhamma Piaka

  1. kitab Dhammasangani yang secara harafiah berarti penggolongan Dhamma yang terbagi dalam empat bab.
  2. kitab Vibhanga menguraikan tentang pemilahan paramatha Dhamma yang terdapat dalam Dhammasangani dan terdiri dari delapan belas bab.
  3. kitab Dhatukatha menguraikan tentang pemaparan unsur-unsur yang terdiri dari empat belas bab.
  4. kitab Puggalapañatti menguraikan tentang penjelasan berbagai jenis orang yang terdiri dari 10 bab.
  5. kitab Kathavathu menguraikan tentang pokok-pokok pertentangan dalam bentuk tanya jawab yang terdiri dari dua puluh tiga bab.
  6. Yamaka menguraikan pemaparan paramatha dhamma secara berpasangan yang terdiri dari sepuluh bab.
  7. Pathana menguraikan tentang duapuluh empat ketergantungan ( paccaya ).

Hari Raya

Terdapat empat hari raya besar dalam Agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.

Waisak

Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta

Kathina

Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.

Asadha

Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa dimana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.
Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.

Magha Puja

Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.

Moral dalam Buddhisme

Sebagai mana agama Islam dan Kristen ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
  • Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam
  • Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
  • Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila
  • Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
  • Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran
Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma:
”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”
Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.


Lima Hukum Alam (Panca Niyama Dhamma)

Salah satu pandangan keliru mengenai hukum kamma adalah menganggap hukum kamma merupakan satu-satunya hukum yang mengatur kehidupan manusia dan menganggap hasilnya (vipaka) sebagai nasib atau takdir yang tidak bisa diubah sehingga seseorang hanya bisa pasrah menerima hasil dari kamma (kamma vipaka). Tetapi kenyataannya tidak demikian.
Dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Digha Nikaya Atthakatha II-432 dijelaskan bahwa Hukum Kamma sendiri hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya 24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri.

1. Utu Niyama
Hukum alam “physical inorganic” misalnya : gejala timbulnya angin dan hujan yang mencakup pula tertib silih bergantinya musim-musim dan perubahan iklim yang disebabkan oleh angin, hujan, sifat-sifat panas dan sebagainya.
2. Bija Niyama
Hukum alam tumbuh-tumbuhan dari benih dan pertumbuhan tanam-tanaman, misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, gula berasal dari batang tebu atau madu dan sebagainya.
3. Kamma Niyama
Hukum alam sebab akibat, misalnya : perbuatan yang bermaksud bermanfaat (baik/membahagiakan) dan yang bermaksud merugikan (buruk) terhadap pihak lain, menghasilkan pula akibat baik maupun buruk.
4. Dhamma Niyama
Hukum alam terjadinya persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya : terjadinya keajaiban alam pada waktu seseorang Bodhisatta hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, pada saat Ia akan terlahir untuk menjadi Buddha, seperti bumi bergetar.
Hukum gaya berat (gravitasi) dan hukum alam sejenis lainnya, sebab-sebab dari keselarasan dan sebagainya, termasuk hukum ini.
5. Citta Niyama
Hukum alam mengenai proses jalannya alam pikiran atau hukum alam batiniah, misalnya : proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat-sifat kesadaran, kekuatan batin dan sebagainya.
Telepati, kemampuan untuk mengingat hal-hal yang telah lampau, kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi dalam jangka pendek atau jauh, kemampuan membaca pikiran orang lain, dan semua gejala batiniah yang kini masih belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan modern termasuk dalam hukum terakhir ini.
Readmore - Materi SMP

07 Mei 2011

Peringatan dan Tema Waisak/Vesakh 2011/2555 B.E

Tidak lama lagi umat Buddha di Indonesia akan memperingati Hari Raya Vesakh atau Waisak 2555 B.E (Buddhist Era) yang secara internasional jatuh pada hari Selasa 17 Mei 2011.
Beberapa persiapan dan kegiatan untuk menyambut hari Tri Suci Waisak tersebut telah dilakukan, di antaranya seperti kegiatan Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD) di beberapa vihara, bakti sosial, dan kegiatan-kegiatan lain.
Seperti tahun-tahun sebelumnya yang memiliki tema Waisak yang berbeda-beda,  pada tahun 2011/2555 B.E ini Sangha Theravada Indonesia (STI)  mengusung tema: “Kedamaian Cahaya Kebenaran”.

Khususnya di Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat, kami guru-guru agama Buddha se-Kabupaten Pontianak akan mengadakan kegiatan Peringatan Waisak tahun 2011/2555 B.E yang dilakukan secara bersama yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2011. Kegiatan tersebut akan di hadiri oleh Pejabat-pejabat Pemerintahan, baik dari Kementerian Agama Daerah Kabupaten Pontianak maupun para tokoh agama. 
Semoga kegiatan yang akan kami laksanakan ini dapat berjalan lancar seperti yang kita harapkan sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Sesuai dengan Tema Waisak tahun 20011 ini, yaitu “Kedamaian Cahaya Kebenaran”. Semoga kegiatan ini juga dapat memberikan cahaya baru dalam hidup kita masing-masing sehingga kita dapat hidup dalam  kebahagiaan dan kedamaian baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun bernegara.

Terlaksananya kegiatan ini tentu tidak luput dari campur tangan para donatur yang telah bersedia memberikan dukungan demi terlaksananya kegiatan tersebut. Untuk itu kami selaku Panitia Peringatan Waisak 2011/2555 B.E Kabupaten Pontianak mengucapkan banyak terima kasih dan Anumodana kepada para donatur, Kepala Sekolah dan para siswa SD, SMP, SMA/SMK yang telah memberikan bantuannya. Semoga jasa kebajikan yang telah dilakukan mengkondisikan pelakunya mendapatkan kebahagiaan, kekuatan, kejayaan, dan berkah yang tinggi. Ayu Vanno Sukkham Balam.
Proposal Waisak 2011/2555 B.E
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga semua Makhluk Berbahagia...
Sadhu...
Readmore - Peringatan dan Tema Waisak/Vesakh 2011/2555 B.E

17 April 2011

Mengapa Kekerasan Semakin Melanda Dunia?

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Mengapa kekerasan semakin melanda dunia?

Na hi verena verāni, sammantῑdha kudācanaṁ,
averena ca sammanti, esa dhammo sanantano.
Dalam dunia ini, kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih
dan saling memaafkan. Ini adalah kebenaran abadi.
(Dhammapada I:5)
Akhir-akhir ini bentuk kekerasan dan kejahatan bertambah di mana-mana. Tidak saja di negeri kita ini yang sudah biasa kita dengar atau kita saksikan terjadi kekerasan, kejahatan, pembunuhan, perampokan dan lain-lain di mana-mana, tetapi juga di negeri-negeri lainnya. Ada apa dengan perilaku atau tindakan manusia akhir-akhir ini? Sebut saja negeri-negeri yang bergolak di seberang sana, di antaranya; Mesir, Tunisia, Libya, Yaman, dan lain-lain.
Kalau ditinjau dari kacamata Dhamma, tidak lain penyebabnya adalah karena ketidakpuasan atau keserakahan. Rakyat melawan pemimpin/presidennya, melawan penguasa. Bukan tidak punya alasan, mereka berontak karena alasan kemiskinan atau ketidakmerataan, dan lainnya. Inilah yang memicu banyak para pemimpin negara diminta oleh rakyatnya untuk mundur dari kekuasaannya, bahkan lebih parah lagi hanya untuk meminta mundur saja sebagian besar tidak ada yang langsung mundur, ya sebagai akibatnya banyak rakyatnya yang menjadi korban kekerasan, pembunuhan penembakan dan lain-lain.
Semua yang terjadi itu ada sebabnya, mengapa rakyat berontak? Ya, karena penguasa/ pemimpin tadi sibuk memperkaya diri, keluarga dan kerabatnya. Rakyat berontak karena tidak punya penghidupan yang cukup, tidak punya pendidikan yang tinggi, tidak punya pengetahuan yang luas dan tidak punya keterampilan yang cukup sehingga memiliki pikiran yang dangkal, dan sebagai akibatnya adalah mudah terbawa emosi, terprovokasi, melakukan kekerasan, dan kejahatan.
Selain karena ketidakpuasan ditambah lagi dengan kebencian, hal inilah yang membuat manusia tidak suka dengan keberhasilan, kedudukan, keberuntungan dan kekayaan orang lain, tidak ada rasa simpati terhadap kebahagiaan orang lain.
Apa lagi penyebab lainnya sehingga banyak manusia sekarang ini semakin termotivasi untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap orang lain? Ya, karena itulah adanya moha, moha inilah penyebab orang melakukan kejahatan. Mereka menganggap hal itu sebagai yang benar, bisa membawa kelahiran di surga dan lain-lain.
Lalu bagaimana cara kita sebagai umat Buddha untuk mengantisipasi agar perilaku kekerasan itu tidak menular? Ya, selalu dekat dengan Dhamma, menjunjung Dhamma, menghormati Dhamma, dan mempraktikkan Dhamma.  Selain hal di atas, yang tidak boleh kita abaikan adalah hukum kamma, kamma inilah sebagai hasil dari setiap usaha dan tindakan kita. Maka disebutkan dalam Saṁyutta Nikāya; sesuai dengan benih yang ditabur demikian juga buah yang akan kita petik.
Untuk mengetahui bahwa kamma itu sebagai pembeda dan penentu kehidupan kita, dalam Cūḷakamma Vibhaṅga Sutta diceritakan seorang pemuda bernama Subha Putra dari brahmana Todeyya, bertanya kepada Sang Buddha demikian; ”Mengapa ada orang yang berwajah tampan/cantik sedangkan lainnya berwajah buruk/jelek? Mengapa ada orang berkelimpahan harta sedangkan yang lainnya miskin? Mengapa ada orang yang lahir sempurna sedangkan yang lainnya terlahir cacat? Mengapa ada orang yang lahir pandai sedangkan yang lainnya terlahir bodoh? Mengapa ada orang yang lahir dihormati sedangkan yang lainnya direndahkan/dihina?”
Sang Buddha berkata lalu menjawab:
”Ya, pemuda Subha pantaslah kamu bingung atas perbedaan manusia di muka bumi ini. Yang berwajah cantik/tampan dulunya dia tidak suka marah, dia selalu berpikir dan berbuat dengan kasih sayang. Yang berkelimpahan harta dulunya dia suka berbuat dana. Yang terlahir sempurna fisiknya, dulunya dia suka menghargai makhluk hidup. Yang terlahir pandai dulunya dia suka bertanya. Yang dihargai/dihormati dia dulunya suka menghargai keberadaan dan pendapat orang lain. Sedangkan kalau sebaliknya, demikian juga buah/akibatnya.”  Jadi, dari isi sutta ini bahwa yang membedakan dan menentukan kehidupan kita satu dengan yang lainnya adalah perbuatan/kamma.
Sebagai bekal dalam mengisi kehidupan ini hendaknya kita punyai Tujuh Sifat Baik sebagai pedoman dalam kehidupan ini yang harus kita laksanakan dan  dikembangkan:
1.    Keyakinan: ajaran Sang Buddha, hukum Kamma, Sebab-akibat, Tilakkhana.
2.    Rasa malu untuk berbuat jahat.
3.    Rasa takut akan perbuatan jahat.
4.    Banyak pengetahuan.
5.    Keteguhan batin.
6.    Perhatian yang kuat.
7.    Kebijaksanaan.                     
(Mahāparinibbāna Sutta)
Readmore - Mengapa Kekerasan Semakin Melanda Dunia?

12 April 2011

Inilah Kehidupan Itu Adanya

Sang Buddha mengajarkan pada kita tentang jalan menuju kebagagiaan. kebahagiaan yang tidak bersifat sementara, kebahagiaan sesungguhnya, kebahagiaan sejati.
pada kesempatan ini saya akan manfaatkan untuk berbagi pemahaman tentang bagaimana cara kita seharusnya menghadapi kehidupan, agar kita dapat hidup dengan bahagia dan damai. 
artikel ini saya sadur dari sebuah buku yang berjudul "Inipun Akan Berlalu - Ajahn Chah". Semoga bermanfaat untuk siapapun dan di manapun Anda berada. Semoga Anda selalu berbahagia.



Di mana Dhamma? Segenap Dhamma sedang duduk di sini bersama kita. Apa pun yang anda alami adalah benar, seperti apa adanya. Ketika anda menjadi tua, jangan pikir bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Ketika punggung anda sakit, jangan pikir itu semacam kekeliruan. Jika anda menderita, jangan pikir itu salah. Jika anda bahagia, jangan pikir itu salah.

Semuanya ini adalah Dhamma. Penderitaan hanyalah penderitaan. Kebahagiaan hanyalah kebahagiaan. Panas hanyalah panas. Dingin hanyalah dingin. Dhamma bukanlah ”Aku bahagia, aku menderita, aku baik, aku buruk,aku mendapat sesuatu, aku kehilangan sesuatu.” Apakah ada yang bisa dihilangkan seseorang? Tidak ada sama sekali. Mendapatkan sesuatu adalah Dhamma. Kehilangan sesuatu adalah Dhamma. Bahagia dan nyaman adalah Dhamma. Sakit adalah Dhamma. Dhamma berarti tidak melekat pada kondisi-kondisi ini, namun mengenali mereka apa adanya. Jika anda memiliki kebahagiaan, Anda sadari, ”Oh! Kebahagiaan tidaklah tetap.” Jika Anda menderita, Anda sadari, ”Oh! Duka tidaklah tetap.” ”Oh, ini benar-benar baik!”—tidak tetap. ”Itu benar-benar buruk!”—tidak tetap. Mereka punya keterbatasan, jadi jangan berpegang begitu erat pada mereka.

Buddha mengajarkan mengenai ketidaktetapan. Beginilah segala sesuatu sebagaimana adanya—mereka tidak mengikuti kehendak siapapun. Itulah kebenaran mulia. Ketidaktetapan menguasai dunia, dan itu adalah sesuatu yang tetap. Inilah titik tempat kita terkelabui, jadi inilah tempat di mana seharusnya Anda lihat. Apapun yang terjadi, kenalilah itu sebagai benar. Segala sesuatu benar dalam sifat alaminya sendiri, yaitu pergerakan tiada henti dan perubahan. Tubuh kita demikian. Semua fenomena badan dan batin pun demikian. Kita tidak bisa menghentikan mereka; mereka tidak bisa dibuat diam. Tidak diam berarti sifat mereka adalah tidak tetap. Jika kita tidak bergulat dengan kenyataan ini, maka di mana pun kita berada, kita akan bahagia. Di mana pun kita duduk, kita bahagia. Di mana pun kita tidur, kita bahagia. Bahkan ketika kita menjadi tua, kita tidak akan terlalu menggubrisnya. Anda berdiri dan punggung Anda sakit, lalu Anda pikir, ”Ya, ini kira-kira benar seperti ini.” Itu benar, jadi jangan melawannya. Ketika rasa sakit itu berhenti, Anda mungkin berpikir, ”Ah! Lebih baik!” Tapi itu bukannya lebih baik. Anda masih hidup, jadi punggung Anda akan sakit lagi. Inilah jalan sebagaimana adanya, sehingga Anda harus terus mengarahkan batin pada perenungan ini, dan jangan membiarkan batin berpaling dari praktik. Tetaplah gigih di dalamnya, dan jangan memercayai segala sesuatu terlalu banyak; alih-alih percayailah Dhamma, bahwa kehidupan itu ya seperti ini. Jangan memercayai kebahagiaan. Jangan memercayai duka. Jangan terpaku mengejar apa pun.

Dengan landasan seperti ini, maka apa pun yang terjadi, janganlah dipikirkan—itu bukanlah sesuatu yang tetap, itu bukanlah sesuatu yang pasti. Dunia adalah seperti ini. Maka di sana ada jalan bagi kita, jalan untuk menata hidup kita dan melindungi kita. Dengan penyadaran murni dan pemahaman jernih terhadap kita sendiri, dengan kebijaksanaan yang melingkupi-segalanya, itulah jalan dalam keselarasan. Tak ada yang bisa mengelabui kita, karena kita telah memasuki jalan. Tetaplah melihat ke sini, kita bertemu dengan Dhamma sepanjang masa.

Sumber: Inipun Akan Berlalu - Ajahn Chah, Ehipassiko Foundation
Readmore - Inilah Kehidupan Itu Adanya

04 April 2011

Proposal Waisak 2555/2011 Kabupaten Pontianak

PANITIA PERINGATAN HARI RAYA WAISAK BERSAMA 2555/2011
KABUPATEN PONTIANAK

Nomor    : /PAN-WAISAK/III/2011
Hal          : Permohonan Dana
Lampiran : 1 Berkas

Kepada
Yth. Donatur dan Simpatisan

Di
Tempat

Dengan hormat,
Sebagai salah satu wujud pengembangan nilai-nilai keagamaan bagi pelajar Buddhis, kami guru-guru agama Buddha yang bertugas di Kabupaten Pontianak akan mengadakan peringatan Tri Suci Waisak yang merupakan salah satu hari raya dalam agama Buddha. Peringatan tersebut kami prioritaskan bagi para pelajar agama Buddha dari tingkat SD sampai SMA/SMK dilingkungan Kabupaten Pontianak.
Sehubungan dengan kegiatan tersebut, kami mohon partisipasi Bapak/Ibu memberikan bantuan dalam hal pendanaan. Sedangkan anggaran yang kami butuhkan terlampir dalam proposal.
Demikian permohonan ini kami sampaikan, atas partisipasi dan bantuan Bapak/Ibu kami sampaikan terima kasih.



Ketua                                                                                                           Sekretaris

Budiyono, S.Ag                                                                                    Somo Wibowo, S.Ag





PANITIA PERINGATAN HARI RAYA WAISAK BERSAMA 2555/2011
KABUPATEN PONTIANAK

PROPOSAL
PERINGATAN HARI RAYA WAISAK BERSAMA 2555/2011
KABUPATEN PONTIANAK



I. Pendahuluan
Tidak lama lagi umat Buddha akan memperingati peristiwa penting dalam sejarah agama Buddha, yaitu hari raya waisak. Merupakan hari besar yang selalu diperingati oleh seluruh umat Buddha dimanapun mereka berada termasuk pemeluk agama Buddha di Kabupaten Pontianak. Kegiatan Waisak akan diadakan sebagai sarana untuk memperkenalkan kepada umat Buddha yang selama ini masih belum mengetahuinya.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta memantapkan keyakinan umat Buddha akan hari raya Waisak.
Mengingat kegiatan ini tidak terlepas dari biaya, maka kami panitia Waisak bersama Kabupaten Pontianak memohon dukungan dana dari Bapak/Ibu Kepala Sekolah, Guru Agama Buddha, dan donatur untuk membantu demi kelancaran kegiatan ini.

II. Dasar Kegiatan
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Peringatan hari raya Waisak ke 2555 tahun 2011 dan sesuai dengan keputusan hasil rapat panitia peringatan hari raya waisak bersama 2555/2011 kabupaten Pontianak.


III. Nama Kegiatan
Kegiatan yang akan dilakukan adalah “Peringatan Waisak Bersama 2555/2011 Kabupaten Pontianak”

IV. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan diselenggarakan kegiatan ini adalah:
1. Memperkenalkan peringatan Waisak kepada masyarakat
2. Meningkatkan keyakinan umat Buddha terhadap ajaran Sang Buddha
3. Mengenang kembali peristiwa yang sangat bersejarah dalam kehidupan Sang Buddha.
4. Memupuk rasa persaudaraan umat Buddha.


V. Tempat Pelaksanaan
Pelaksanaan Waisak akan direncanakan di gedung Kartini
Mempawah

VI. Tanggal Pelaksanaan
Pelaksanaan Peringatan Hari raya Waisak Bersama dilaksanakan pada hari Kamis 26 Mei 2011.

VII. Peserta
Peserta kegiatan ini adalah para Pelajar Buddha dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, dan Masyarakat.

VIII. Sumber Dana
Sumber dana kegiatan ini berasal dari:
1. Saldo Waisak tahun 2010
2. Sumbangan guru agama Buddha kabupaten Pontianak
3. Sumbangan Sekolah yang memiliki siswa beragama Buddha
4. Para Donatur dan simpatisan



IX. Rencana Anggaran
Sekretariat                                     : Rp. 1.000.000
Gedung                                          : Rp. 1.000.000
Sound System                                : Rp. 600.000
Konsumsi                                       : Rp. 7.500.000
Perlengkapan                                 : Rp. 1.500.000
Dekorasi dan Altar                         : Rp. 2.000.000
Dokumentasi                                  : Rp. 500.000
Keamanan                                     : Rp. 1.000.000
Humas + Transportasi                    : Rp. 2.500.000
Sovenir                                          : Rp. 500.000
Biaya TakTerduga
(10% Jumlah Anggaran)                 : Rp. 1.700.000
Jumlah                                         : Rp.19.800.000


X. Dana Awal
Saldo Waisak tahun 2010 Rp. 1.700.000.00

Kekurangan Dana Rp. 18.100.000.00

Dana juga dapat ditransfer melalui BPD Bank KALBAR Kantor Cabang Mempawah dengan nomor rekening:
5025231963 a/n Magabudhi Kabupaten Pontianak.
Setelah transfer harap memberi informasi ke Contact Persons kami.

Contact Persons:
1. Budiyono, S.Ag : 087819103075
2. Suwarno, S.Ag : 081250003799
3. Subari, S.Ag : 085245075445
4. Sunarti, S.Ag : 081383896718
5. Thukul Slamet, S.Ag : 081318373006
6. Somo wibowo, S.Ag : 081345065344


XI. Susunan Panitia
Susunan Panitia Waisak Bersama 2555/2011 Kabupaten Pontianak sebagai berikut:


SUSUNAN PANITIA
PERINGATAN HARI RAYA WAISAK BERSAMA 2555/2010
KABUPATEN PONTIANAK

Penyelenggara                : PC Magabudhi Kabupaten Pontianak
Ketua                            : P.Md. Budiyono, S.Ag
Wakil Ketua                  : Sunarti, S.Ag
Sekretaris                      : Somo Wibowo, S.Ag
                                       Upc. Subari, S.Ag
Bendahara                     : Sukarsi, S.Ag
                                      Sri Windayani, S.Ag
Seksi-seksi
Rohani                           : P.Md. Suwondo, S.Ag
Acara dan Kesenian       : Tri Wiriyawati, S.Ag
                                      Maya Sumana Dewi, S.Ag
Dekorasi dan Panggung  : Thukul Slamet, S.Ag
                                      Wiyoto, S.Ag
                                      Dwi Samuji, S.Ag
Dekumentasi                  : Upc. Subari, S.Ag
Humas                           : Suwarno, S.Ag
                                       Suyono
Sound System               : Hendra Julianda
Perlengkapan                : Bambang
                                     Giri Waluyo, S.Ag
Keamanan                    : Pria Sri Manggala
Tranportasi                   : Wiyoto, S.Ag
Kesehatan                    : dr. Nor Hartoyo




Konsumsi                     : Sukarni, S.Ag
                                     Sunarni, S.Ag
                                    Endah Dwi Rahayu, S.Ag
                                    Imro’atun
                                    Asih
                                    Liswati, S.Ag
Penerima Tamu :
Koordinator                : Ellis Agustina, S. Psi
Anggota                      : Suwarno, S.Ag
                                    Suyono
                                   Dwi Samuji, S.Ag
                                   Bambang
                                   Sunarni, S.Ag
                                   Sukarsi, S.Ag
                                   Sunarti, S.Ag

XII. Penutup
Demikian Proposal ini dibuat, dan kami berharap akan kemurahan hati dari Bapak/Ibu Kepala Sekolah, para donatur dan simpatisan demi kelancaran kegiatan ini.

Akhirnya semoga perbuatan baik yang telah dilakukan akan mengkondisikan untuk memperoleh kekuatan, kejayaan, kesuksesan,  dan kebahagiaan di kemudian hari.




                                                                                                           Mempawah, 25 Maret 2011
Ketua,                                                                                                 Sekretaris               



Budiyono, S.Ag                                                                                  Somo Wibowo, S.Ag
Readmore - Proposal Waisak 2555/2011 Kabupaten Pontianak

25 Januari 2011

Deskripsi Kode Etik Keguruan dalam Pelaksanaan Tugas Berbagai Bidang Kehidupan

A. DESKRIPSI KODE ETIK KEGURUAN
Rumusan hasil kongres PGRI tahun 1989.adapun rumusannya sebagai berikut :
KODE ETIK GURU INDONESIA (PGRI, 1989)
Guru Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian kepada Tuhan YME, Bangsa dan Negara. Guru Indonesia harus memiliki jiwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 karena tanpa memiliki jiwa tesebut Guru Indonesia tidak akan bisa tanggung jawab, Guru Indonesia Memiliki pedoman kepada dasar-dasar sebagai berikut ;
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia yang seutuhnya.
2. Guru Memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan.
4. Guru harus dapat menciptakan suasana yang dapat diterima peserta didik untuk berhasinya proses belajar mengajar
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitar supaya terjalin hubungan dan kerjasama yang baik dalam pendidikan
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial.
8. Guru bersama-sama meningkatkan mutu dari organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan
9. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Kode Etik Guru yang Pertama mengandung pengertian bahwa perhatian utama seorang guru adalah peserta didik. Perhatiannya semata-mata dicurahkan dengan tujuan terciptanya pembelajaran yang optimal edukatif.
Kode Etik Guru Kedua mengandung makna bahwa guru hanya sanggup menjalankan tugas dan profesi sesuai kemampuannya.
Kode Etik Guru Ketiga menunjukkan pentingnya seorang guru mendapatkan informasi peserta didik selengkap mungkin. Tentang kemampuan, maupun minat dan bakat karena akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir dan kemajuan peserta didik.
Kode Etik Guru Keempat mengisyaratkan pentingnya guru menciptakan suasana sekolah yang aman dan nyaman sehingga membuat peserta didik betah akan belajar.
Kode Etik Guru Kelima mengingat pentingnya peran serta orang tua siswa dan masyarakat sekitar, yang bertujuan untuk membangun terwujudnya dan terjalinnya hubungan baik antara guru dengan peserta didik.
Kode Etik Guru Keenam Guru harus selalu meningkatkan dan mengembangkan mutu serta martabat profesinya dan ini dapat dilakukan secara pribadi ataupun kelompok.
Kode Etik Guru ketujuh Intinya menjalin kerja sama yang mutualisme dengan rekan seprofesi. Rasa senasib dan sepenanggungan.
Kode Etik Guru Kedelapan “ Guru bersama-sama memlihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana dan prasarana dalam perjuangan, sehingga dalam pengurusan organisasi dengan seorang guru tidak adanya monopoli profesi. Sehingga dapat mengayomi para guru.
Kode Etik Guru kesembilan pada intinya kode etik ini di dasari oleh 2 asumsi yang sangat mengikat terciptanya guru yang professional dengan pemerintah yang ada.
B. PENERAPAN KODE ETIK GURU DALAM PELAKSANAAN TUGASNYA.
Penerapan kode etik guru dalam tugasnya begitu luas untuk dipaparkan secara keseluruhan, karena banyak masalah dan kendala yang dialami dalam melaksakan tugasnya. Akan tetapi dalam bahasny ini pemaparan akan tugas utama sebagai guru yaitu ;
  1. Multi Peran dan Tugas Guru dalam Proses Pembelajaran
Tugas guru dalam profesinya bahwa guru sebagai pendidik dan sebagai pengajar. Akan tetapi dari kedua peran tersebut sehingga dapat terjadi arena pemmbelajaran yang dengan tujuan bahwa guru dapat menciptakan suasana yang dan sitasi yang dapat diterima dalam belajar.
Guru memainkan multi peran dalam proses pembelajaran yang menyelenggarakan dengan tugas yang amat bervariasi. Jika seorang guru telah berpegang dengan ketentuan dan amat bervariasi sehingga di dapatkan guru dapat mewujudkan suasana yang belajar dan mengajar.
1. Guru sebagai konservator (pemelihara)
2. Guru sebagai transmitor (penerus)
3. Guru sebagai transformator (penerjemah)
4. Guru sebagai perencana (planner)
5. Guru sebagai manajer proses pembelajaran
6. Guru Sebagai Pemandu (direktur).
7. Guru sebagai organisator (penyelenggara)
8. Guru sebagai komunikator
9. Guru sebagai fasilitator
10. Guru sebagai motivator
11. Sebagai penilai (evaluator)

  1. Penerapan Kode Etik Guru dalam Pelaksanaan Tugasnya.
Pemahaman atas tugas dan peran guru dalam penyelenggaraan system pembelajaran seyogianya menjadi kerangka dalam berfikir dalam bahasa tentang penerapan Kode Etik Guru sebagaimana mestinya.Kode Etik Guru Indonesia dalam plaksanaan tugasnya sesuai dengan AD/ART PGRI 1994
a. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia yang berjiwa pancasila.
b. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional
c. Guru dalam berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan bimbingan dan pembinaan
d. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya untuk menunjang berhasilnya pembelajaran.
e. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat seitarnya untuk membina peran serta dan tanggung jawab terhadap pendidikan.
f. Guru secara pribadi dab bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan profesinya
g. Guru memelihara hubungan sejawat keprofesian, semangat, kekeluargaan dan kesetiakawanan social.
h. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi sebagai sarana perjuangan.
i. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
C. PENERAPAN KODE ETIK GURU DALAM MASYARAKAT
Dalam menjalankan tugas profesinya seorang guru akan berinteraksi dengan masyarakat. Keterkaitan lain antara guru dan masyarakat bahwa guru berperan sebagai pendidik yang banyak bertanggung jawab dalam (1) memelihara system nilai (2) penerus system nilai (3) penerjemah system nilai. Masyarakat dengan pendidikan dapat ditinjau dengan 3 segi yaitu ;
  1. Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan
  2. Masyarakat juga iut andil dalam peran dan fungsi di lembaga kemasyarakatan secara langsung maupun tidak.
  3. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang maupun dimanfaatkan.
Paparan diatas menunjukan bahwa (1) Masyarakat merupakan tempat melaksanakan tugas keprofesian seorang guru (2) masyarakat menjadi sumber belajar dan mendidik seorang guru (3) masyarakat sebagai konsumen dan pengguna jasa dan hasil pendidikan. Guru dan tenaga kependidikan telah dipaparkan diatas yaitu bahwa masyarakat itu merupakan pelanggan jasa pelayanan pendidikan dan pengguna hasil kependidikan.
1. Masyarakat dan Karakteristiknya
Masyarakat selalu mencakup kelompok-kelompok orang yang berinteraksi antara sesame, saling ketergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama. Karakteristik masyarakat umum perlu di pahai betul karena akan keunikannya atas suku bangsa, bahasa, dan lain sebagainya.
Pada umumnya ada 2 ciri umum keunikan masyarakat Indonesia yakni :
  1. Secara Horizontal ditandai oleh kesatuan-kesatuan social atau komunikasi yang berbeda
  2. Secara Vertikal ditandai dengan perbedaan pola kehidupan mereka yang bermacam-macam.
Keunikan masyarakat justru perlu di pandang sebagai potensi yang sangat bermanfaat dalam menunaikan tugasnya. Perbedaan itu adalah suatu kewajaran dan sekaligus kekayaan yang berharga.
Selain itu seorang guru juga jangan gamang dalam menerapkan kode etik, karena akan dikawatirkan guru akan mengalami future shock ( keterkejutan masa depan), sebab di masa depan kemungkinan terjadi fenomena bahwa benda yang hari ini di anggap paling canggih besok lusa bias menjadi sudah dimuseumkan karena terimbar\s oleh penemuanbaru yang lebih canggih lagi.
Gambaran masyarakat masa depan adalah ditandai dengan terjadinya proses globalisasi yang amat cepat. Untuk melukiskan kejadian semacam itu Kenichi Ohmac menulis bku yang berjudul The Borderless World atau Dunia Tanpa Tapal Batas (Dedi supriadi, 1990 : 60).
Yang perlu diperhatikan secara serius yaitu masyarakat yang membutuhkan layanan professional dalam berbagai kehidupan. Karakteristik semacam itu diwarnai oleh dua hal yaitu : Pertama, karena perkembangan Iptek yang semakin canggih dan daya piker masyarakat yang semakin kritis. Kedua, karena semakin terspesialisasikannya berbagai bidang pekerjaan.
2. Penerapan Kode Etik Guru dalam Kehidupan Bermasyarakat
Dalam pembahasan diatas yang menyebutkan karakteristik masyarakat Indonesia dan Kecenderungan dapat dijadikan kerangka berfikir dalam bahasan penerapan kode etik guru sebagaimana mestinya. Kalau guru dan tenaga kependidikan lainya ingin exist di masyarakat, ketika berinteraksi dengan mereka ia harus berpgang teguh pada kode etiknya. Perilaku yang ditampilkan harus mencerminkan nilai-nilai luhur kode etik itu sehingga kandungannya menjelma dalam perilakunya.
Berdasar AD / ART PGRI 1998, berikut ini diuraikan penerapan kode etik guru dalam masyarakat.
  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila.
  2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
  3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
  4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
  5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
  6. Guru secara pribadi dan bersama-bersama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
  7. Guru memelihara hubungan sprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan social
  8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi sebagai sarana perjuangan.
  9. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan
D. FUNGSI KODE ETIK KEGURUAN DALAM TUGAS DAN BERBAGAI BIDANG KEHIDUPAN.
Keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil berupa pengelompokan primer yang terdiri atas sejumlah kecil. Pendidikan keluarga bagi anak merupakan pendidikan pertama dan utama sehingga akan sangat sulit untuk dihilangkan. Pendidikan keluarga bagi perkembangan anak oleh pemerintah telah dituangkan dalam UU No. 2 tahun 1989, Pasal 10 ayat 4 yang menyatakan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga.
Melihat pentingnya keluarga bagi perkembangan anak dan pentingnya keutuhan dan keharmonisan dalam keluarga. Sesungguhnya kode etik guru telah dijadikan pedoman perilaku bagi guru dimana dan dalam arena apapun dan jika seorang guru telah melaksanakan kode etik ketika ia melaksanakan pendidikan dalam keluarga ia akan terhindar dari unsure subjektivitas.
Didalam keluarga guru berperan sebagai model dengan berupaya mengejawantahkan nilai luhur kode etik perilakunya. Guru juga berperan sebagai actor pencipta suasana demokratis, ia harus banyak mengajak diskusi guna untuk mengembangkan keluarga dan masalah dalam keluarga. Jadi pada dasarnya kode etik guru dalam keluarga berperan sebagai pedoman yang mengarahkan dalam membentuk anggota kelaurga menjadi manusia yang seutuhnya. Empat peran dan fungsi kode etik guru dalam keluarga. Dan semua itu memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Membentuk anggota keluarga menjadi manusia seutuhnya yang berjiwa pancasila
2. Menanamkan kejujuran pada anggota keluarganya.
3. Memupuk semangat anggota kekeluargaan dan kesetiakawanan anggota keluarga
4. Mendorong partisipasinya anggota keluarga dalam mensukseskan jalannya pendidikan

Readmore - Deskripsi Kode Etik Keguruan dalam Pelaksanaan Tugas Berbagai Bidang Kehidupan

GAUTAMA LAMP

www.wibbie.co.cc

www.wibbie.co.cc

The Purpose of Live

  ©Template Blogger Elegance by Dicas Blogger.

TOPO